Tahukah Anda bahwa dunia penulisan di negeri kita ini sangat kontradiktif? Di satu sisi, sebagian besar penulis lebih suka menulis fiksi ketimbang nonfiksi. Artinya, bila seluruh penulis fiksi dan nonfiksi sama-sama produktif menulis, maka stok tulisan fiksi jauh lebih banyak daripada nonfiksi.
Tapi di sisi lain, "lahan" untuk pemuatan tulisan di media cetak lebih banyak tersedia untuk tulisan nonfiksi ketimbang fiksi. Sebagai contoh nyata, coba simak koran langganan Anda. Hitung semua tulisan yang dimuat di sana dalam seminggu. Anda mungkin kaget ketika menyadari bahwa cerpen hanya dimuat satu naskah dalam seminggu, lalu mungkin ada puisi dan cerita bersambung yang porsinya pun tak kalah sedikit. Sementara untuk nonfiksi? Hm, SANGAT BANYAK! Kalau dipersentasekan, mungkin kita bisa mengambil angka 2 persen untuk fiksi, dan 98 persen untuk nonfiksi!
Dari kontradiksi ini, Anda mungkin bisa membayangkan bahwa peluang naskah fiksi untuk dimuat di media cetak jauh lebih kecil dibanding nonfiksi. Maka, bila ada sebuah media yang 50 persen lebih isinya adalah tulisan fiksi, tentu ini adalah berita yang sangat menggembirakan para penulis fiksi.
Ketika saya masih remaja dulu, ada sebuah majalah cerpen remaja yang sangat terkenal, bernama Anita Cemerlang (AC). Bukan hanya terkenal, tapi juga bergengsi. Setiap penulis yang berhasil memuat naskah mereka di AC tentu merasa sangat bangga. Lalu, muncul majalah lain dengan konsep yang mirip, dan diberi nama Aneka Ria. Tapi belakangan, Aneka Ria berubah nama menjadi Aneka Yess, dan konsepnya berubah drastis. Ia kini bukan lagi majalah cerpen remaja, tapi sudah tak ada bedanya dengan majalah-majalah remaja lainnya. Lantas, sempat pula muncul majalah Ceria Remaja yang berukuran kecil, dan isinya pun sebagian besar cerpen. Tapi kini, Ceria Remaja pun sudah tak ada lagi.
Lantas, pernah pula muncul majalah Cinta yang konsepnya mirip Anita Cemerlang, didirikan - antara lain - oleh salah seorang penulis produktif di Anita Cemerlang, yakni E. Sati. Tapi seperti media-media pendahulunya, Cinta pun hilang tak berbekas :(
Di akhir tahun 1990-an, Annida hadir sebagai majalah cerpen remaja Islami. Ia sempat bernasib seperti Anita Cemerlang, yakni terkenal dan bergengsi bagi para pecinta tulisan fiksi remaja. Tapi sayangnya, sejak Juli 2009, Annida edisi cetak pun dibubarkan, dan beralih menjadi media online.
Maka, kita pun makin kekurangan media yang sangat memanjakan para penulis fiksi, media yang isinya didominasi oleh cerpen, puisi, serial, dan cerita bersambung. Setelah Annida "tewas", saya mencatat bahwa satu-satunya media seperti ini yang masih eksis adalah Girlie Zone (terbitan Solo, diprakarsai antara lain oleh Afifah Afra), walau belum terlalu ngetop seperti para pendahulunya. Mungkin karena masih baru.
Alhamdulillah, tidak sampai satu bulan setelah Annida cetak berhenti terbit, majalah STORY pun hadir. Isinya didominasi oleh fiksi, mungkin sekitar 90 persen. Launchingnya diadakan tanggal 28 Juli 2009 di restoran Dapur Sunda, Pancoran, Jakarta. Acaranya sangat ramai. Dari ratusan hadirin yang memenuhi restoran, terlihat puluhan mantan penulis Anita Cemerlang, mulai dari Kurnia Effendi, E. Sati, Bambang Sukmawijaya, Kurniawan Junaedi, Ganda Pekasih, dan masih banyak lagi. Terlihat pula tiga penulis komedi yang ngetop di era 1990-an, yakni Hilman Hariwijaya, Gusur Adhikarya dan Boim Lebon (nama yang terakhir ini masih produktif menulis cerita komedi remaja hingga hari ini). Tak ketinggalan, hadir pula dua artis papan atas, Rachel Amanda dan Nessa Sadin. Bahkan, sastrawan senior Saut Poltak Tambunan pun hadir, dan ikut menyumbangkan lagu pada sesi hiburan.
Bila disimak dari latar belakangnya, STORY bisa disebut sebagai reinkarnasi Anita Cemerlang, sebab ia banyak didukung oleh para mantan penulis majalah yang satu ini. Bahkan di edisi pertama yang covernya dihiasi oleh wajah cantik Gita Gutawa, sebagian besar cerpen yang dimuat adalah karya para penulis Anita Cemerlang. Bahkan lagi, managing editor STORY adalah Cahya Sadar, salah seorang redaktur senior di Anita Cemerlang. Lantas, ada nama Reni Erina (Editor), Tita Tjindarbumi (Guest Editor Surabaya) dan Gus TF Sakai Gues Editor Sumatera Barat), yang merupakan para penulis produktif di era Anita Cemerlang dulu.
Walau latar belakang pendiriannya diwarnai oleh sebuah "media masa lalu", tapi jangan khawatir karena - menurut saya - format STORY disesuaikan dengan kondisi remaja masa kini. Desainnya jauh lebih keren, dan full color pula. Bahkan yang lebih menarik, dihadirkan rubrik Cerpen Seleb (cerpen yang ditulis oleh artis remaja papan atas). Juga ada testimoni dari selebriti top terhadap salah satu cerpen yang dimuat. Hm, para remaja pasti sangat tertarik pada rubrik seperti ini.
Sebagai seorang penulis yang dulu dibesarkan oleh Anita Cemerlang, saya tentu sangat bahagia dan bersyukur atas hadirnya STORY. Saya yang sudah lama berhenti menulis fiksi, kini bersemangat lagi untuk "kembali seperti dulu".
Maka, saya begitu bersemangat untuk hadir pada acara launchingnya. Betapa senangnya ketika hari itu saya bisa bertemu langsung dengan para penulis papan atas yang saya kagumi.
Tapi tanpa bermaksud pesimis, saya hendak menengok sejenak ke masa lalu. HAMPIR SEMUA majalah cerpen yang dulu berjaya, kini tinggal kenangan:
- Anita Cemerlang telah bubar sejak tahun 2002.
- Aneka Ria berganti nama menjadi Aneka Yess dan berubah menjadi majalah remaja biasa.
- Ceria Remaja pun bubar.
- Cinta juga bubar.
- Annida kini berubah format menjadi media online.
- Beberapa waktu lalu, sempat muncul majalah Bukune dan Matabaca yang mengangkat tema dunia perbukuan. Kini kedua majalah ini pun berhenti terbit.
Singkat cerita: HAMPIR SEMUA media masa lalu di Indonesia, yang mengusung tema penulisan dan perbukuan, kini sudah tiada (kecuali Girlie Zone yang sedang berkembang, dan majalah-majalah sastra serius seperti Horison dan Gong). Artinya, di balik kebahagiaan kita atas hadirnya STORY, sebenarnya ada sebuah kekhawatiran yang perlu kita cermati dengan serius. Jangan sampai STORY pun nanti bernasib sama seperti Anita Cemerlang dan media-media sejenis lainnya. Pengelola STORY harus benar-benar serius dalam membangun konsep majalah ini. Ia tetap harus berkualitas, idealis, memanjakan para penulis dan pecinta fiksi remaja, tidak berganti konsep menjadi majalah remaja kebanyakan seperti Aneka Ria. Namun di sisi lain, dia tetap harus menjanjikan dari segi bisnis, sehingga kelangsungan hidupnya bisa lebih terjaga.
Jakarta, 29 Juli 2009
Jonru
Founder PenulisLepas.com & BelajarMenulis.com
Mentor Sekolah-Menulis Online
Penulis Buku "Menerbitkan Buku Itu Gampang!"






